Rabu, 11 April 2018

Kisah Seorang Pemuda, Cacing Tanah, dan Ikan Emas


Sumber : https://life.trubus.id/post/suka-ikan-mas-yuk-ketahui-sejarah-dan-asal-usulnya-5050


Alkisah di sebuah desa yang jauh diatas lereng gunung, hiduplah seorang ibu miskin yang sedang sakit  keras bersama anak lelakinya, tubuh ibu itu kurus kering dan sudah tidak sanggup untuk berdiri, jangankan berdiri, dudukpun tak bisa, ibu itu hampir sekarat, sebelumnya mereka berdua telah berjuang mati-matian agar bisa sembuh dibantu para tetangga mereka. Si anak laki-lakinya adalah anak yang berbakti dan sayang pada ibunya, si anaklah yang menjaga dan merawat ibunya. Suatu saat lewatlah seorang tabib dan mendengar rintihan ibu itu, si tabib mendatangi rumah si ibu dan langsung membuat ramuan obat dari daun-daunan dan akar lalu meminumkannya ke si ibu.

Lalu sebelum balik ke kampungnya, tabib itu berpesan kepada si anak laki-laki, "nak, carilah seekor ikan mas di sungai, dan jangan lupa saat berusaha mencari umpannya, kamu harus berdoa pada Tuhan, ucapkan kata-kata yang baik, karna ibumu butuh energi dari protein ikan, ibumu sepertinya sudah lama tidak memakan daging, karena itu tubuhnya lemah", maka pergilah si anak mencari cangkul dan mulai menggali tanah dibelakang rumahnya, dengan semangat sambil menggumamkan doa:

"ya Tuhan, jika dengan ini ibuku bisa sembuh, maka bantulah aku ya Tuhan"

Ia menggali tanah di belakang rumahnya, dan menemukan seekor cacing ukuran sedang yang menggeliat saat dipisahkan dari tanah, lalu si anak berkata, "oh cacing, maafkan aku atas perlakuan ku ini, aku telah memisahkan kau dari keluargamu, mengganggumu dari kegiatanmu, semoga kebaikanmu dibalas Tuhan"

Si anakpun mengambil pancing, ia pamit pada ibunya dan berangkat menuju sungai, ia mulai memancing di pinggir sungai itu, lalu berdoa lagi dengan yakin akan mendapatkan ikan emas, "ya Tuhan bantulah aku dengan Kuasa Mu", setelah beberapa saat lamanya, satu ekor ikan emas mulai menghampiri umpan anak itu, maka di dalam sungai terjadilah percakapan antara cacing dan ikan emas

"Hai ikan emas yang bijaksana, semoga keberkahan selalu mengikutimu, aku tahu kau bahagia hidup di air yang segar dan jernih ini, tapi aku akan beri rahasia kebahagiaan yang abadi disisi Tuhan"

"apakah itu?" tanya ikan emas

"Maukah kau membantu anak kecil yang memancing di sana, ia telah menderita sejak kecil karna ibunya sakit keras, sejak kecil ia berjuang sendiri untuk bertahan hidup dengan ibunya, ia anak yang sholeh, baik, jujur dan suka membantu orang lain, untuk itu marilah kita bahu membahu membantunya, bukankah jika Allah mentakdirkan mengabulkan doa seseorang, maka alam semestapun akan bahu membahu mewujudkan kehendak Tuhan? karena itu, aku rela dan ikhlas kau santap, tak mengapa asal nanti aku mendpatkan kebahagiaan yang abadi yang telah dijanjikan Tuhan untukku"

"Baiklah wahai kawanku, aku pun dengan ikhlas dimakan oleh ibu anak itu, maafkan aku saat menelanmu dan kamu merasa kesakitan cacing, karena itu memang sudah sifatku diciptakan Tuhan memakan kamu" jawab ikan mas

"Aku tahu ikan emas, bersabarlah dengan sakit yang disebabkan oleh mata kail yang tajam itu" sambung cacing

Alhasil ikan itu mendekati mata kail dan memakan si cacing dengan menarik-narik tali pancing, anak itu menarik pancingnya dengan riang, Alhamdulillah, rezekiku hari ini dimudahklan oleh Allah. Si anak membawa ikan itu pulang dan mulai membersihkannya dengan sangat hati-hati, agar tidak menimbulkan rasa sakit pada ikan tersebut, "maafkan aku ikan mas, aku telah memisahkan kau dari keluargamu, membawamu dari tempat tinggalmu yang sangat menyenangkan, ini demi ibuku" lalu anak itu membuatkan ibunya sup ikan emas yang sangat enak yang mampu membangkitkan selera makan ibunya.

Beberapa hari, ibu itupun sanggup untuk duduk, saban hari, ibunya mampu berdiri dan akhirnya mampu berjalan, maka kembalilah kebahagiaan si anak dan ibunya, mereka bekerja dengan riang untuk menjalani hari-harinya, mengumpulkan kayu bakar, berkebun ubi kayu, talas dan cabe, lalu menjualnya di pasar, kelebihan penghasilan dari kayu bakar dan kebunnya, mereka berikan kepada orang-orang yang buta dan lumpuh serta orang yang membutuhkan. Begitulah hidup mereka,  suka meonolong dan giat bekerja.

Bukankah makhluk yang diciptakan Tuhan merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi rezekinya masing-masing sesuai dengan takdir yang telah ditentukan Tuhan sejak sebelum mereka dilahirkan?


Review Buku "Jadi Dewasa Itu Cuma Mitos" untuk yang Merasa Biasa-Biasa Saja

Ughh, Dewasa itu ternyata tidak sama dengan pemikiran kita
Dulu dimasa lalu, pernah memiliki ekspektasi "menjadi dewasa itu menyenangkan, bisa melakukan apapun, bisa beli ini itu pakai uang sendiri, bisa memakai pakaian yang OOTD, tidak banyak lagi mendengar kata "tidak boleh",  ternyata menjadi dewasa itu cuma mitos, ternyata orang dewasa itu rindu untuk kembali berada di masa kecil dulu, buku ini cocok sekali  buat kalian, sebelum memasuki usia 30 tahun, Meski hanya kumpulan scribbles kenyataan hidup yang kita jalani sehari-hari, nyatanya kita belum pernah menjadi dewasa, apalagi dimata orang tua kita, kita hanyalah anak kecil mereka.

Membaca kumpulan scribbles ini membuat kita tergelitik dan meng-iyakan apapun yang diungkapkan oleh Sarah, apapun yang digambarkan dengan ilusi kartun, membuat kita senyum-senyum sendiri, mengutuk masa lalu, dan meng-aminkan hal-hal yang patut kita syukuri.

Kelebihan buku ini mampu mengajak kita untuk bernostalgia, membuat kita berfikir, meski hanya dalam bentuk gambar dan ungkapan-ungkapan kehidupan sehari-hari.


Pengarang                   Andersen, Sarah
ISBN/ISSN                 9786024247362
Penerbit                       POP
Tahun Terbit                2017
Tempat Terbit              Jakarta
Deskripsi Fisik            112 hlm.; 20 cm

Senin, 26 Maret 2018

Review Buku " Semua Ada Saatnya" Terjemahan Ustadz Abdul Somad, Lc., MA

Kisah-Kisah Inspiratif Penggugah Iman
Identitas Buku:
Judul               : Semua Ada Saatnya: Seni Memikmati Hidup Lebih Seimbang
Penulis            : Mahmud Al-Mishri
Penerjemah     : Ustadz Abdul Somad, Lc., MA
ISBN               : 9789795927792
Cetakan           : IV, Juni 2017
Penerbit           : Pustaka Al-Kautsar
Subyek            : Kisah-Kehidupan dalam Islam

Pertama kali menemukan buku ini, saya langsung mengambilnya pada tumpukkan buku-buku baru hibah dari mahasiswa yang akan melaksanankan wisuda di perpustakaan kampus tempat saya bekerja, bukan karna gambar sampulnya, tetapi karna ada tulisan Ust. Abbul Somad nya.  Saya membuka daftar isinya, dan langsung saya pinjam bawa pulang. Buku ini berisi kisah-kisah nyata, ringan untuk dicerna, buku ini sungguh menggugah iman, sebut saja tentang kisah bertemakan canda dan gurauan yang dibolehkan, pertaubatan, mukjizat dan karomah, keimanan dan kelebihan yang dimiliki para imam serta cerita yang paling saya sukai adalah kisah-kisah ajaib nan unik antara hewan dan manusia. 

Adakalanya hati harus diisi dengan hiburan yang bermanfaat agar merasa tidak jenuh, lewat buku ini, kita akan dihibur dengan kisah-kisah menarik yang terjadi di dunia nyata dan mengandung hikmah yang dapat dijadikan sebagai pelajaran dalam hidup. Buku yang berisi nasihat-nasihat tentang kejujuran, kehidupan dalam beragama, tanggungjawab, kasih sayang,  adab, pertaubatan, karma, dan lainnya.

Buku ini cocok dibaca oleh semua umur termasuk untuk anak-anak, alangkah baiknya, saat anak-anak akan tidur dibacakan kisah-kisah yang sesuai untuk usia mereka dan diselingi dengan nasehat serta penjelasan yang mudah ditangkap oleh pikiran mereka, agar membentuk karakter yang taat beragama dan bisa membedakan mana yang baik dan buruk. 

Ada kisah dan pengetahuan unik yang belum pernah saya ketahui tentang dokter-dokter di dasar laut, kisah ini menceritakan bagaimana sekumpulan ikan kecil di dalam klinik mereka, mampu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh penghuni laut, dan uniknya, meski mereka bertubuh kecil tetapi mereka dihormati oleh predator ganas seperti hiu dan paus, dari cerita ini kita dapat memetik pelajaran bagaimana seekor ikan kecil penyembuh mampu menjaga kekayaan ikan di lautan dan menghindari dari kepunahan. 

Selasa, 27 Februari 2018

Aku dan Nyanyian Hujan

Puncak Gunung Prau, Wonosobo, Jawa Tengah , 26 Juni 2014
Di sini hujan

rintiknya hentikan langkahku

untuk merenung sesaat

menikmati indahnya ketenangan yang hadir

aku tersenyum

memandangi tingkah serbuan jutaan tetes air yang disebut hujan

menguarkan aroma khasnya  beradu dengan denting tanah

tiap tetesannya berirama menimpa yang dilaluinya

membentuk lukisan indah bagai bunga dari tetesan hujan



aku tahu

hujan tak membuatku sendiri

ada segurat lirik yang tak bisa dijamah

yang hanya bisa kunikmati dengan caraku sendiri

disini hujan tumpah semakin lebat tak terbendung

hujan berkah atau hujan bencana

anugerah ataukah malapetaka


aku tahu

jauh disana

juga ada banyak orang yang menikmati suasana ini

menenangkan atau menakutkan

melenakan atau membangkitkan

mengganti gersang menjadi subur

atau mengganti subur menjadi lebur



aku tak kuasa menahan basah

dan aku tak kuasa bertemankan dingin

yang menjalari tanganku membuatnya beku

merampas hangat menjadikannya kelu



aku suka hujan

menikmatinya adalah caraku untuk bahagia

karna itu

bolehkah aku menepi?

sekedar menghangatkan diri

atau melepas rindu

ataupun melepas berat beban pundak ini



aku bukanlah musafir

aku hanya orang yang tersesat di kegelapan

mencari jalan pulang

ke pelukkan hangat sang ibunda

lalu sebuah cahaya menuntunku untuk singgah

singgah di rumah-Mu nan sepi

tak terdengar lagi suara sendu

hanya tinggal sunyi

kemanakah mereka yang dulu

mereka yang pernah hadir

dan memenuhi setiap sudut ruang ini

mereka yang selalu penuh harap

dalam tangis air mata menghujan

dalam khusyuk bertafakur

hanyut dalam kenikmatan ibadah

lena dalam doa-doa yang panjang

 

terimakasih Tuhan

aku suka hujan

dulu tetesnyalah menyamarkan tangis sebakku

dulu tetesnyalah tempatku melepas lara

dulu tetesnyalah mengajarkanku arti kembali kepada-Mu

pun sekarang tetesnyalah yang selalu mengingatkanku

bahwa ditiap hujan ada rapalan-rapalan doa mustajabku

Minggu, 25 Februari 2018

Resep Risoles Isi Jagung Keju dan Membuat Kulitnya

Risoles sehat siap untuk di goreng apalagi disaat hujan dan perut keroncongan

Sejarah Munculnya ide membuat Risoles Jagung Sosis Keju
Aku tidak terlalu suka makan gorengan, kecuali kalo bikin sendiri, karena menurutku bikinan sendiri sudah pasti dijamin sehat dan halal, selain itu aku juga bisa memastikan enak atau tidaknya, nah, dulu pas jaman liburan kuliah, aku sering bantuin chef nya tanteku di dapur yang biasa aku panggil om Putong,  menu masakkannya adalah menu ala café, khusus untuk fitness dan gym, jadi makanannya dijamin sehat. Nama cafenya Gold café, dulu aku sering ikut sopir tante sama asistennya kakakku  stock makanan dan minuman sehat di mall-mall yang ada di Jakarta, Serpong dan Bandung, ada MOI, JACC, City Walk, Thamrin City, Summarecon Mall Serpong, dan D'groove di Bandung, mau tidak mau aku juga kebagian jatah bertemu artis-artis saat ikut kakak dan tante ceck penjualan di cafe, untungnya aku bukan orang yang ngefans sama artis, jadi akunya biasa saja, hehehe, maaf songong dikit. Mulai dari memperhatikan dan ikut membantu om Putong inilah aku suka melihat orang memasak,  pastinya sedikit banyak, aku jadi tahu tentang seluk-beluk memasak, si om ini dulunya adalah chef di salah satu hotel ternama di Jakarta pusat. Nah, karena udah bosan makan-makanan yang beli di luar, si om berkreasi memanfaatkan jagung sisa pembuatan vege untuk  menu tuna mayo, dan juga ada sisa putih telur rebus  untuk ayam dada saos merah, maka jadilah risoles jagung yang diisi dengan smoke beef, putih telur, sosis dan jagung, pokoknya enak deh 
 
Risoles Jagung Sosis Keju yang siap disantap

Cara Pembuatan

Balik ke tema Risoles Jagung Sosis Keju, aku hanya ingin membuat beda isinya, tidak seperti risoles pada umumnya yang diisi dengan sayuran, dan kulitnya tipis, tetapi om Putong mengajarkanku bagaimana membuat  kulitnya terasa gurih dan enak. Berikut resep pembuatan Risoles Jagung Sosis Keju   
Bahan untuk Kulit
  • Gula 1 sdt
  • Susu Dancow Vanila 30 gr dicampur dengan sedikit air
  •  Telur 2 butir
  • Tepung terigu 500 gr (aku suka menggunakan segitiga biru)
  • Margarin Blue band dicairkan  100 gr
Cara Pembuatan Kulit
  • Aduk Gula dan telur menggunakan mixer, dikocok pakai tangan juga bisa
  • tuang susu cair sedikit demi sedikit, masukkan juga margarin cair
  • masukkan tepung sedikit demi sedikit, mixer sampai kalis, diamkan beberapa saat 
  • panaskan Teflon dengan diolesi margarin, masukkan adonan menggunakan sendok sayur ukuran sedang, jangan banyak -banyak agar kulit risol tidak tebal, dan guncangkan Teflon agar adonan merata dan tidak tidak mudah retak saat dibentuk, jika kulit agak tebal, bisa ditambah sedikit air, agar kulit yang dihasilkan tidak terlalu tebal, lebih baik risol dibentuk/digulung saat kulit masih hangat
Isi Risoles (Isian Opsional, bisa diganti dengan putih telur yang sudah di rebus atau smoke beef, jika menginginkan isi yang lebih banyak mengandung protein)
  • Jagung manis 5 bonggol, kalo aku suka jagung Thailand, rebus atau steem, lalu di parut
  • Sosis potong memanjang menjadi 2 bagian, goreng setengah matang
  • Keju Parut kraft
  • Bawang Bombay setengah, di chopp
  • bawang putih 2 siung di chopp
  • margarin secukupnya
  • tepung panir/roti
  • putih telur 4 butir
Cara membuat
  • panaskan margarin, tumis bawang putih dan bawang Bombay saampai harum
  • masukkan jagung yang sudah diparut, aduk kurleb 2 menit, angkat
  • masukkan keju parut secukupnya, jangan banyak-banyak, nanti asin
  • Tata jagung diatas kulit risol beserta  sosis , bentuk sesuai  keinginan, gulung, beri putih telur sebagai perekat agar tidak mudah lepas
  • baluri risol ke dalam putih telur, lalu gulingkan ke atas tepung roti
  • Panaskan wajan, goreng sampai kekuningan (kalo pengen yang lebih sehat, panaskan di dalam microwave dengan waktu kurang lebih 4 menit atau sesuai selera)
  • Risoles Jagung Sosis Keju siap dinikmati  bersama mayonnaise atau saos sambel  
  • risol yang belum digoreng bisa tahan lama jika disimpan di dalam freezer
SELAMAT MENCOBA DAN MENIKMATI

Rabu, 21 Februari 2018

Jangan Dibuang, Inilah Manfaat Botol Bekasmu Saat Melakukan Pendakian Gunung

Tak ada Sendok, Botol bekaspun jadi @puncak Slamet 3428 mdpl

Bagi kalian yang suka melakukan kegiatan pendakian ke gunung atau kegiatan bertualang, tentu tak pernah ketinggalan membawa air mineral sebagai kebutuhan pokok dan wajib ada dalam carier, air minum dalam kemasan botol yang sering dibawa terdiri dari berbagai merek yang dijual di pasaran yang menjadi andalan, sebut saja merek yang menjadi langganan seperti Aqua, Ades, Amidis, Lee Mineral, Club, Vit, dll serta minuman berasa seperti Sprite, Coca Cola, Fanta, Pepsi, Pocari Sweat dan merek lainnya. Bagi saya, minuman lebih berharga daripada makanan ketika di gunung. Nah kalian yang pemerhati lingkungan, atau pecinta alam, pasti selalu berusaha menjaga kode etik yang ada di gunung, salah satunya, jangan membuang sampah sembarangan, dengan jargon pamungkasnya, "bawa pulang sampahmu". Sebagian pendaki, pasti pernah memanfaatkan botol bekas yang dimiliki, nah berikut manfaat botol bekas yang dapat kalian praktekkan, daripada dibuang tak terpakai, mending dimanfaatkan !

1. Sebagai wadah cadangan Air
Beberapa gunung di Indonesia khususnya gunung api aktif, seringkali tidak ditemukan sumber air diketinggian tertentu, sehingga pendaki mesti mempertimbangkan tentang berapa lbanyak air minum yang harus dibawa, dan memperhatikan manajemennya agar persediaan cukup sampai turun gunung. Beberapa orang ada yang membawa jerigen sebagai cadangan air minum, nah botol bekasmu yang ada di rumah bisa dimanfaatkan untuk isi ulang air minum bersih atau air untuk cuci-cuci.

2. Dijadikan Sendok atau garpu
Seringkali ketika mendaki lupa kita bawa sendok, karena alat makan ini hanya peralatan remeh temeh, sehingga botol bekas bisa diakali dengan membentuknya seperti sendok atau garpu menggunakan pisau atau gunting

3. Sebagai wadah penyimpan makanan
Botol bekas bisa dimanfaatkan sebagai wadah penyimpan makanan yang berlebih atau wadah makanan yang dibawa ketika akan menuju puncak, kalo saya dulu sering memanfaatkan sebagai wadah puding buah, karna puding sangat baik dikonsumsi saat mendaki apalagi saat cuaca sedang panas

4. Tempat sementara penampung BAK
Sebenarnya ini menjijikan untuk diceritakan, namun bagi anda yang penakut saat malam hari, terutama laki-laki, mereka sering memanfaatkan botol bekas sebagai media BAK cadangan, para pendaki pasti pernah menemukan botol berisi air seni ini

5. Perangkap embun
Bagi yang suka survive, botol minum bisa dimanfaatkan sebagai penampung embun dengan cara mengikat ujung-ujung cabang daun dan dibungkus plastik, dibawahnya dipasang botol sebagai wadah penampung, nah embun ini akan menyatu menjadi air yang dapa membantu kalian survive 

6. Buat nanam biji-bijian
Sebenarnya ini ide gila, namun bermanfaat lo, misalnya kita bawa buah, bijinya bisa kita tanam di botol biar bisa dilestarikan, bisa buat eksperimen juga, tapi kalo nanam biji kacang ijo, dijamin bisa bermanfaat buat pendaki lain 

7. Wadah penyimpanan bahan masakkan
Agar beras, minyak goreng atau bahan masakkan lain yang dibawa tidak tumpah dan berceceran, botol ini bisa dimanfaatkan sebagai alternatif dan menghemat ruang dalam cariermu

8. Tempat penyimpanan survival kit dan alat tulis agar tidak basah
Survival kit biasanya merupakan peralatan kecil yan dimanfaatkan untuk survive dan membutuhkan satu wadah agar mudah ditemukan dan tidak tercecer serta rentan basah, untuk itu botol ini penyelamat, misalnya yang rentan basah: korek api, baterai, kapas, benang jahit, tembakau, peta

9. Subtitusi wadah minum
Bagi yang suka ngopi atau ngeteh tapi tidak membawa gelas, biasanya botol ini menjadi alternatif pengganti gelas dan gampang dibawa kemana-mana serta ringan
Manfaatkan semua yang ada disekitarmu @puncak Slamet 3428 mdpl


10. Untuk wudhu' demi menghemat air
Bagi pendaki yang ingin berwudhu' dengan air, bisa memanfaatkan botol bekas dengan cara dilubangi agar air tidak terbuang sia-sia

11. Sumber pemicu pembakaran
Botol bekas mudah terbakar karna terbuat dari bahan plastik, namun ini tidak disarankan, tetapi manfaatnya tetap ada asal tidak berlebihan, ddapat imanfaatkan sebagai pemicu dalam memudahkan pembakaran kayu atau rumput yang dimanfaatkan sebagai penghangat tubuh disaat kedinginan

12. Dibawa pulang bikin kerajinan tangan
Bagi kalian yang suka berkreasi, botol bekas bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk menghasilkan karya seni yang bermanfaat, misalnya untuk pot bunga, membuat lampu hias, bunga plastik, kotak pensil dll

13. Pelindung senter dari hujan atau embun
Disaat melakukan pendakian pada malam hari atau saat terjadinya hujan, botol bekas dapat dimodifikasi sebagai pelindung senter agar tidak basah dan berembun

14. Pemberat tenda
Agar tenda tidak mudah ditiup angin maka butuh pemberat atau penahan agar tenda berdiri dengan baik selain memanfaatkan pasak tenda.

15. Menjadi amal saat turun dari gunung
Saat turun gunung, bawalah botol-botol bekasmu dan serahkan ke penduduk sekitar lereng gunung yang biasa mengumpulkan botol atau serahkan ke basecamp tempat kalian registerasi, semoga menjadi ladang pahala bagi kalian
Sampah yang kalian bawa turun akan dimanfaatkan penduduk sekitar,
fokus ke bak sampahnya ya, jangan ke sepatu mbak yang baju merah :D 

Senin, 01 Januari 2018

Kisah Seru Tahun Baru 2018 yang Tak Terlupakan




Luangkan Waktu bersama anak-anak desamu, karena dunia mereka sangat unik untuk bisa dipahami


Hamparan Sawah yang mulai menguning

Rel Kereta penghubung Kayu Tanam dengan Lubuk Alung

Kisah seru Tahun baru.
1. Digigit pacet
2. Ngutang di warung
3. Diuntit orang gila
4. Hampir mati di sungai
5. Diomelin mak-mak

Bermula dari survey salah satu  guru muda "Indonesia Mengajar" di  Instagram,  aku jadi antusias menceritakan kegiAtanku bersama anak-anak kampungku di kolom komentarnya, pertanyaannya  seperti ini, "Apa kegiatan favoritmu bersama anak-anak"?

"Anak-anak kampung ku lebih suka didengarin celotehnya, terkadang berantem rebutan mau didengerin  duluan, ditemani mandi ke sungai sambil aku bawain makanan dan minuman  hasil masakan sendiri, kalo aku gak ikut, mereka gak jadi mandi, kalo aku gak ikut, mereka tetap kumpul di kamarku, tiap Sabtu mereka suka nginap di rumah pas aku libur kerja, Sabtu-Minggu, suka tidur empet-empetan di kamar kecilku, bahkan ada yangg rela tidur kepanasan meskipun di rumahnya terbiasa pake AC. Pas mau tidur mereka suka bercerita banyak hal dan terakhir minta pendapat padaku. Minggu paginya kami  sholat Shubuh jama'ah di masjid raya dekat rumah, habis sholat kami jogging sambil menjelajahi desa-desa tetangga. Mereka suka makan bareng di rumahku, meski seringnya bawa makan sendiri-sendiri dari rumah, mereka suka bawa PR dan minta diajarin sekalian menghafal juz amma disimak sama aku, pokoknya kalo libur kerja, rumah jadi rame, sampai-sampai ibuku marah karna anak-anak banyak yang jail dan usil. Kalo ada anak yang gak pulang-pulang ke rumahnya, pasti ibunya nanyain dan nyari ke rumah. Bersama mereka aku merasa punya banyak teman dan dunia yang luas".

Aku menyukai dunia anak-anak, bagiku dunia mereka unik yang berbeda dengan zamanku dulu, terutama generasi milenial atau mungkin bisa dibilang Gen Z sekarang, yang terlalu candu dan ketergantungan dengan teknologi dan internet. Dunia mereka penuh dengan hal-hal yang tak terduga dan membuat aku pusing jika mereka mengajukan pertanyaan yang kadang di luar logika dan membuatku bingung mau jawab apa, "uni ALLAH itu tinggalnya dimana? bentuknya seperti apa?" "uni uni, kenapa  aku bias punya adek?" kak Ipaik kutu bias terbang ya?"  tetapi aku senang, karena mereka selalu antusias bertanya dan bercerita tentang kegiatan mereka di sekolah, di tempat ngaji atau bercerita tentang teman-teman mereka, bahkan mereka saling berebut dan berantem hendak bercerita dan berceloteh, aku sebagai pendengar yang baik, berusaha mendengarkan dan memberi masukkan serta nasehat jika cerita mereka melenceng dari etika pergaulan. Terkadang aku capek mendengar cerita mereka, apalagi  saat ada yang tidak mau pulang ke rumah sekadar untuk makan atau mandi, yang membuatku terpaksa mengantarkan mereka ke rumahnya untuk makan bahkan menyuapinya, mereka yang masih kecil-kecil terpaksa aku mandikan di kamar mandi Surau yang lebih luas dan menyuruh menjemput baju mereka ke rumah, bahkan ada yang tidak mau lepas dariku, kemanapun aku pergi, bajuku akan di pegang, bahkan ke kamar mandipun dibuntutin. Meski melelahkan mengurus mereka, tetapi aku tetap menyukai dunia mereka, saat mereka berkumpul, banyak cerita yang aku sampaikan diselingi nasehat,  sehingga mereka membutuhkan penjelasan dan pembenaran dariku, terutama cerita kisah-kisah teladan, yang membuatku teringat dengan kegiatan KKN ku dulu di Jawa, mengajar anak-anak di rumah warga pada malam hari dan ditutup dengan cerita berbahasa Padang.
Senin, 01 Januari 2018 (Aku+Lusi+Putri+Aini+Ghifa+Dion+Haikal)

Sebelum Jogging:
Malam pergantian tahun baru, kami memilih tidur lebih awal, karena sudah sepakat, bahwa tahun baru ini bukanlah tradisi kami, aku berdoa semoga malam pergantian tahun baru Padang di guyur hujan, dan doaku terkabul, ditambah lagi jam 9 malam, listrik mati, dan kami memilih untuk tidur lebih awal. Aku bersama adikku, dan 4 anak lainnya yang menginap di rumah, tidur empet-empetan di kamarku yang kecil, 2 laki-laki tidur di kasurku dan kami berempat yang cewek tidur dibawah berlaskan kasur santai. Sesuai rencana, tanggal 1 Januari, kami sholat shubuh berjama'ah di masjid dan dilanjutkan jogging. Saat terbangun tanpa bantuan alarm , aku lihat jam masih pukul 04.25, aku terbiasa membuka jendela dan pintu kamar yang langsung menghadap halaman agar bisa menghirup udara pagi, tiba-tiba ada sinar senter yang diarahkan ke rumah, aku langsung tutup pintu buru-buru karna takut, dan dari luar terdengar ada yang memanggil namaku, ternyata  Haikal , anak tetangga yang jarak rumahnya lumayan jauh,  "berani juga ya ni anak shubuh-shubuh jalan sendiri dari rumahnya ke sini" pikirku, aku sapa Haikal, aku bukakan pintu dan membangunkan yang lain,  kami langsung menuju masjid untuk shalat berjama'ah dan pulang ke rumah untuk buat susu coklat anget dan bawa roti untuk diawa jogging, Karena cuaca dingin, semua  adek-adekku membawa jaket, dan aku meminjamkan jaketku untuk yang cowok, Dion make jaket windproof yang baru saja aku pesan dari Undip Distro dan Ghifa memake jaket HMPII kesayanganku yang paling sering aku pake buat ndaki dulunya, aku sendiri memakai sweater. Biasanya yang ikut jogging banyak, tetapi penyambutan tahun baru, mereka merayakannya di tempat-tempat lain yang penuh keramaian, bahkan teman akrab aku sejak kecil juga tidak pernah absen jogging bareng-bareng.

Digigit pacet
Kami jalan santai sambil ngobrol ngalor ngidul, sesekali lar-lari kecil, beberapa saat kemudian tiba lah kami di rel kereta api, kami menyusuri rel sambil menunggu matahari terbit disaksikan gunung Marapi dan Gunung Singgalang dari jauh dan hamparan sawah yang luas yang menghijau dengan berjalan di atas rel sambil menjaga keseimbangan agar tidak jatuh. Bekal yang kami bawa telah habis saat berisitirahat di jembatan penghubung rel, kami terus menyusuri rel , tiba-tiba Dion berteriak karena ditempeli pacet, dan yang lain juga langsung mengecek kaki masing-masjng, ternyata aku juga ditempeli, akupun bergidik dan menjauh dari rumput-rumput dan langsung berusaha melepaskan pacet itu dengan daun-daunan yang tumbuh dekat rel, kami balik kanan karena tidak mau ditempeli pacet yang lebih banyak lagi. Dulu waktu mndaki, pacet adalah hal lumrah bagiku, bahkan aku selalu berusaha membantu teman-tieman yang digigit pacet dengan tetasan air tembakau, bahkan dulu pernah ditempeli 12 ekor pacet yang bergelantungan di kakiku, tetapi aku tenang saja, berbeda dengan sekrang, satu saja sudah membuatku panik. Kami memutuskan menjelajahi surau yang ada banyak tangganya, tetapi kami menamakannya jenjang seribu.

Pagi-Pagi sudah Ngutang di warung Orang
Niat kami untuk menikmati lontong murah di desa tetangga membuat kami langsung berlari-lari dari tangga seribu yang dekat surau kaum sukunya Dion, suku Panyalai menuju warung langganan kami, bukan karna harganya yang murah saja, tetapi lontongnya enak, dan ibuknya ramah. Kami memesan lontong  masig-masing dan kerupuknya,  karena tidak ada yang membawa uang jajan, akupun membayari makan adek-adeku ini, karena aku fikir uangnya masih lebih, aku menawari mereka,

"yang mau tambah gorengan atau lontong, tambah aja, uangnya masih sisa ni"

setelah aku hitung uangnya kemungkinan pas, tapi ketika aku bayar ke ibuknya, eh malah bayarnya kurang 2000, aku malu sendiri, karna salah hitung dan akhirnya aku ngutang,  aku bilang ke ibukya  , "buk ngutang dulu ya  yang 2000, ntar kurangnya saya antar ke sini",
"ya gak papa, cuma dau ribu kok",

"Duh, pagi-pagi sudah ngutang ni gara-gara kalian, hahaha",  guyon ku ke mereka.
"ya salah uni lah, uni yang bilang uangnya masih sisa, hahaha" balas mereka

Jembatan Goyang
Diuntit orang gila
Perut sudah kenyang, badan jadinya berat, kamipun jalan santai, sesekali mereka bergelut di pinggir jalan.  Lama kami berjalan, saya tengok ke belakang, sepertinya kami diuntit bapak-bapak gemuk sejak pulang dari warung tadi, kami mempercepat langkah dan sesekali berlari agar membuat jarak yang jauh , tetapi penguntit itu juga berjalan cepat, kamipun mengatur strategi, karna jalanan masih sepi, dan Aini juga masih kecil, kelas 3 SD, saya suruh semuanya lari dan sembunyi dekat SD, kami pun mengintip dari jauh, ternyata penguntit itu bingung sambil tengak-tengok ke sekitar dan kehilangan jejak, ketika di persimpangan, awalnya ia mau terus ke arah kami, tapi akhirnya balik kanan dan menuju ke simpang arah desa lain. Wah orang gila ternyata pikir kami, itu bisa dilihat dari pakaiannya dan ia tidak mengenakan alas kaki serta rambut yang awut-awutan.

Sungai yang masih  menawarkan kesegaran,  airnya lumayan  jernih dan bersih
Hampir mati tenggelam di sungai
Kamipun lega, karena bosan lewat jalan biasa yang kami lewati untuk pulang, kami memilih lewat jembatan irigasi, dan tembus ke sungai yang dihubungkan oleh jembatan, kami menyebutnya jembatan goyang yang terbuat dari Baja dan beralaskan papan-papan kayu. Kami menikmati pagi di  atas sungai, kami tidur-tiduran diatas papannya sambil  bercerita, tanpa bisa dielakkan, Diontak sengaja  menjatuhkan topi Jaket yang ia lepas resletingnya, iapun panik, langsung yang lain meneriaki agar diambil secepatnya, ditemani Haikal, Dion dan Haikal buru-buru melepas baju dan ragu-ragu menyebur ke sungai, karena semalam hujan dan arusnya agak deras, topi hitam itu berlalu dengan sangat cepat dan hampir tiba di pertemuan dua sungai, saya yang melihat mereka ragu-ragu, bersama Ghifa, langsung turun dari jembatan dan berlari-lari nyebur ke sungai, memang airnya deras, tapi saya berani menyebrangi arusnya, kemungkinan topi telah terbawa arus 50 meter lebih, di depan mata saya, topi itu hanyut dengan cepat karna tiba di pertemuan dua sungai, dengan gesit saya dan Ghifa berlari melawan arus, topi pun hilang dan tdak kelihatan lagi  karna tiba di arus yang berbelok, setelah menebar pandangan saya melihat topi itu tersangkut di cerukkan antara tumpukan kayu-kayu dan sampah di seberang sungai. Sungai ini lumayan lebar, kurang lebih 15 meter, saya menemukan kayu dan berusaha berjalan sedikit-demi sedikit dengan menancapkan kayu ke dasar, arus lebih deras dari sungai yang di bawah jembatan tadi, Ghifa berusaha berenang tetapi tidak bisa bergerak maju karna tertahan arus, kamipun saling berpegangan menggunakan kayu dan akhirnya tiba di seberang sungai, masalahnya, topi tersangkut di cerukkan belokkan air, yang pastinya punya muara yang sangat dalam karna tergerus arus. Aku masih berfikir untuk melanjutkan berennag ke sana karena takut dengan segala bahaya yang ada dalam air, Ghifa berenang perlahan-lahan dengan memegang kayu dan pinggiran tebing dan berhasil mengambil topi itu, sumpah, rasanya waktu itu aku seperti mau  mencari mati saja. Untung ada Ghfa yang berani dan memberikan kekuatan padaku, Oh ya Ghifa ini sebenarnya adek angkatku, aku mengasuhnya ketika Ghifa masih berumur 3 tahun, karena ibunya dulu mengangkat aku dan menyekolahkan aku selama 3 tahun selama SMA.  Jadinya kami sudah akrab seperti kakak beradik, dulu aku sering memanggilnya Ipin, dan kakaknya Ahsa dengan Upin..

Cerita seru yang tak kalah mengkhawatirkan adalah, Lusi menangis bersama Putri karna hampir terbawa arus, demi menyusul aku dan Ghifa karna khawatir lama tak balik-balik, tetapi tidak bisa karna arusnya deras, aku membantu Lusi dan Putri serta Aini menyebrngi arus yang deras dengan berpegangan, Haikal dan Dionpun menyusul dengan wajah mereka yang cemas tetapi nekad menyebrangi arus,  akhirnya aku dan Ghifa memutuskan berenang saja di tempat favorit kami yang ada tempat lompat dan tebing yang runtuh, arusnya yang tidak terlalu deras, karna sudah pada basah semuanya, kamipun berenang seperti biasanya.

Diomelin mak-mak
Kami menikmati pagi yang dingin itu dengan berenang-berenang dan melompat bebas ala kami, padahal rencananya kami ingin berenang saat sore. Sebenarnya bukan masalah topinya yang bikin aku nekat menghadang arus, tetapi perjuangan mendapatkan topi dari jaket itu yang susah, topi dan jaket bias dibeli lagi, tetapi kenangannya itu yang lebih berharga. Jangan Tanya jika kami pulang bakal aman-aman saja atau bahkan kena marah, ya pasti kena marah lah, sambil dengar celotehan mak masing-masing, apalagi aku pasti kena getahnya, karna aku yang paling gede sendiri.

"Pagi-pagi kok mandi di sungai, pasti arusnya deras,  ndak takut hanyut?"
"Ghifa, mandi sana, cuci baju basah itu sendiri"
"Put, kan sudah mandi di sungai ,  sekarang mandi, bersihin rumah, cepat"
"Pagi kok mandi di sungai kau Lusi, airnya kan deras, mau cari mati ?"
"Kamu ini yang gede, tapi sama saja kayak anak-anak, mandi di sungai lagi"

Ya aku sih palkng dibaweli mak-mak, tinggal dengerin ocehan mereka dan terus bersih-bersih diri, lanjut beberes rumah dan masak.  

Selasa, 19 Desember 2017

Apakah Kau Telah Siapkan 4 Hal ini ?

Tadi di mesjid setelah melaksanakan kegiatan rutin mengaji dan tilawah bersama, dilanjutkan asmaul husna dan berdoa di kampus tempat saya bekerja, pemilik yayasan mengundang seorang ustadz untuk mengisi tausyah yang mana beliau adalah imam salah satu masjid di Pekanbaru, yang membuat saya tertarik adalah isi ceramah yang tegas tapi tetap diselingi humor yang bertema hari akhir, sudahkah kita mempersiapkan hari akhir yang kedaangannya tiada kita ketahui?.

Ketika tulangmu masihlah amat kuat menyangga tubuh
ketika matamu masihlah bisa melihat secara  utuh
ketika semangat mudamu masihlah  bergemuruh
ketika kakimu masihlah sanggup melangkah jauh
Ketika tanganmu masihlah kuat bisa menyentuh
Ketika pundakmu masihlah kokoh dan tangguh
Ketika imanmu masih mantap tertancap teguh
Ketika hatimu masihlah sempat meraih futuh
ketika cita-citamu masihlah bisa diraih sungguh-sungguh
Maka manfaatkan sisa waktu yang kau miliki

Namun apakah kau telah siapkan 4 hal ini ?
yang kelak akan ditanyakan saat yaumul ba'si
1. untuk apa sajakah kau gunakan umurmu?
2. kemanakah kau belanjakan hartamu?
3. kau manfaatkan untuk apa masa mudamu?
4. kau amalkan untuk apa ilmu yang kau miliki?


4 perkara ini adalah hal yang ditanyakan saat hari berbangkit tiba, hari dimana semua umat dibangkitkan dari kuburnya dan dikumpulkan pada yaumul Mahsyar, hari dimana tak ada lagi pembelaan, tak ada yang bisa berdusta, hari dimana semua bersaksi termasuk bibir yang dulu mudah sekali untuk berdusta, dan semua indera yang selama ini kita gunakan untuk meraih kenikmatan dunia yang fana, dan yang melupakan hari akhir yang kekal.

Apakah kau juga telah memahami 5 perkara sebelum datang 5 perkara ini ?

Hidup Sebelum mati
Muda sebelum Tua
lapang sebelum sempit
Sehat sebelum sakit
Kaya sebelum miskin

Apakah dimasa hidupmu kau memikirkan kematian dan mempersiapkannya dengan baik atau sebaliknya? 
Apakah selama hidupmu kau bermanfaat untuk orang banyak ataukah malah sebaliknya?
Apakah masa mudamu kau manfaatkan untuk beramal dan menuntut ilmu atau malah sebaliknya?
Apakah diwaktu lapangmu kau melapangkan majelis atau malah sebaliknya?
Apakah di waktu lapangmu kau menyempatkan berbakti pada orang tuamu atau malah sebaliknya?
Apakah di waktu sehatmu kau menyempatkan untuk membesuk orang sakit atau sebaliknya? 
Apakah di waktu kau kaya kau mengingat yang miskin atau sebaliknya?










Fakta tentang Kakak Pertama

Sebagai kakak tertua atau kakak sulung di dalam sebuah kerajaan kecil di rumahmu, kamu adalah seorang Jenderal pemimpin perang, Ayah dan Ibumu adalah Raja dan Ratu, dan Adik-Adikmu bisa menjadi apapun, bukan hukum alam, namun, memang sudah semestinya seperti itu. Apakah kamu merasa menjadi seorang Jenderal? atau hanya sebagai prajurit? Ini yang kamu rasakan saat menjadi kakak sulung, apalagi yang Second to be first, anak kedua menjadi pertama, kalo disingkat mungkin jadi secfirst, apalagi jika kamu menjadi kakak pertama perempuan, tanggungjawabnya pasti akan lebih besar lagi, Iilah beberapa hal yang kamu rasakan sebagai kakak pertama:
1. Hidup ini keras, dan kamu harus mengambil porsi yang paling keras dibanding adik-adikmu, kamu menjadi leader bagi dirimu sendiri dan adik-adikmu
 "Nak, saat Ayah dan Ibu tak ada lagi bersama kalian,Ibu titip pesan, kamu harus siap melindungi adik-adikmu dan menjadi panutan bagi mereka ya"
Dalam hati: Sedih ya, kayak di sinetron-sinetron aja, gak lebay sih, hanya saja gak mau itu terjadi, jadi kakak itu berat bu.
2. Contoh teladan dan studi banding bagi adik-adikmu. Apapun yang terjadi kamu akan menjadi acuan mereka dalam menjalani hidup, seperti prestasi yang harus kamu raih, harus lebih unggul dalam hal apapun, di sekolah, di lingkungan masyarakat maupun di dalam rumah sendiri. Sikapmu dalam pergaulan akan menjadi contoh bagi adik-adikmu, baik buruknya contoh yang kau berikan, yang ia lihat dan dengarkan, maka itu pula yang ia contoh.
        Kakak : "Adek, kok belum ngerjain PR, udah jam 8 lo"
        Adik    : "Kakak juga belum ngerjain PR"
Dalam hati: Ngek, tepok jidat, rasanya pengen nyubit, pengen emosi, tapi mesti sabar bin sabar
3. Siap disalahkan setiap saat, dan siap sedia menjadi satpam tanpa bayaran. Adalah tugasmu menjaga adik-adikmu dari hal-hal yang membahayakan mereka ataupun pengaruh dari, baik eksternal maupun internal, apapun kesalahan yang dilakukan adik-adikmu maka semua kembali padamu, dan kamu harus siap disalahkan kapanpun dan atas alasan apapun.
Ibu       :  "Kak, kenapa Adik belum dibangunin juga, nanti   telat pergi sekolahnya"
  Kakak  : "Udah kakak bangunin kok bu, tapi adik nya tidur lagi"
 Ibu       : " Ya, namanya juga anak kecil kak, masih SD, ayuk, bangunin lagi gih kak, bangunin dan tungguin adek sampe masuk kamar mandi"Dalam hati:
Nyebelin banget sih ni anak, ngerepotin orang aja
4. Menjadi gentle sekaligus anggun. Kamu harus bersikap pemberani, berani mengambil keputusan, berani mengambil resiko, bersikap gentle dan bertanggung jawab, sekaligus tetap menjunjung tinggi nilai dan norma sebagai kodratnya wanita.
"Nak, jadi kakak itu harus berani, harus kuat, apapun resikonya, karna kamu adalah benteng pertahanan inti dari adik-adikmu"
Dalam hati: Harus banget gitu ya, katanya, kalo adik masuk kandang macan, kakak juga harus ikut masuk, tapi kalo harus mencicipi minuman beracun, maka kakak yang harus terlebih dahulu mencicipinya.
5. Sabar adalah makananmu tiap hari, Meski sabar dilekatkan kepada ibu yang tiada batasnya, namun kalo seorang kakak, sabarnya berbatas, kalo sudah tak bisa mengontrol lagi, jangan sampai membangunkan singa yang sedang tidur, bisa-bisa adiknya sendiri dimakan, hehe *just kidding. Sering disalahkan orang tua, meski dirimu tidak melakukan kesalahan, adalah hal wajar bila itu yang kamu rasakan, dan itu membuatmu belajar bersabar dan mengelola emosi, itu baik untuk pendewasaan dirimu.
 "Sabar kak, orang sabar itu disayang Allah, tapi dibenci setan"
Dalam hati: Andaikan sabar itu makanan paling enak di dunia, mungkin bisa gemuk ni badan, hehe
6. Disiplin adalah prinsip dan kunci suksesmu. Bagimu ketidakdisiplinan adalah pelanggaran yang tidak bisa ditolerir, disiplin adalah kunci dalam meraih kesuksesan. Melihat adik-adikmu berlalai dalam tugasnya, kamu akan menegurnya bahkan memarahinya, meski pada akhirnya kamu juga akan dimarahi ibumu.
"Kak, anak kecil itu jangan dimarah-marahi apalagi dibentak, nanti mentalnya lemah"
Dalam hati: Begitu aja terus, belain aja terus, nanti jadi manja, ibu sendiri yang repot.
7. Paling bawel, bukan berarti menuntut untuk dihargai. Kebawelanmu, kecerewetanmu adalah bukti bahwa kamu peduli pada adik-adikmu. Pertanyaan-pertanyaanmu  yang beruntun, bukanlah sebuah interogasi atau intimidasi, itu hanyalah sebuah bentuk kekhawatiran kakak pada adiknya, cerewetnya kakak bukanlah sebuah bentuk hardikan atau bentakan, melainkan sebuah bentuk perhatian yang tidak bisa hnaya dengan nasehat puitis.
"Dek, kamu kenapa baru pulang jam segini? kemana aja tadi siang? kakak telfon kok gak diangkat-angkat? kami cemas memikirkanmu,  itu sepatumu kenapa bisa basah?, kotor lagi, kamu pikir nyuci sepatu tugas yang mudah? "
Dalam Hati: ya Allah, susah banget ngontrol emosi ini, maksudnya baik, pengen tahu keadaan adik, tapi malah marah-marah. Susah ya nasehatin orang ternyata, apalagi nasehatin adik sendiri ketimbang nasehatin anak orang.
8. Berusaha mengalah demi kebahagiaam adikmu. Meski terasa berat pada awalnya, namun sikapmu yang siap mengalah akan membentuk karakter mu yang semakin dewasa dalam berfikir dan bertindak, terkadang mesti mengalah dalam hal-hal yang mneyangkut masa depanmu sendiri, misalnya masalah pendidikan, agar adik-adikmu bisa melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi darimu.
"Kak, kakak sekolah di negeri aja ya , kasihan adek, gak lulus di negeri"
"kak, kakak gak usah dulu lanjut kuliah ya, kasihan adik, biaya sekolah swastanya mahal"
"Kak, uang buat beli seragam barunya buat bayar SPP adik dulu ya, nanti kalo ada rezeki, ibu belikan yang baru ya"

Dalam hati: Aku sih gak apa-apa demi adik bu, tetapi tolong perhatikan juga keinginanku, hiks. Sedih kadang kalo diingat-ingat saat mengalah demi adik. Rasanya pengen nangis, tapi harus kuat.

9. Tak mau hal pahit yang kamu alami terjadi juga pada adik-adikmu. Apapun kejadian buruk yang kamu alami, yang menimpamu, pengalaman pahitmu, kamu tidak mau menimpa adik-adikmu, karena itu kamu mewanti-wanti adikmu.
"Dik, kalo waktunya pulang ke rumah ya pulang, jangan nongkrong gak jelas dipinggir jalan, ingat, kamu itu cewek dik, harus bisa jaga diri dan bersikap sopan, hargai para pengendara, kalo nanti ketabrak, kan yang disalahin mereka yang main-main di pinggir jalan".
Dalam hati: Bukannya nyinyir kayak emak-emak dik, hanya saja ini pengalaman yang pernah kakak rasain.
10. Dituntut untuk lebih dalam hal apapun. Jika kamu berprestasi, maka akan menjadi pemacu semangat adik-adikmu untuk bisa lebih dari dirimu, sebagai seorang kakak kamu dituntut untuk lebih pintar, lebih pandai dan hebat dalam bidang apapun. Kenapa? Karena kamu menjadi tolak ukur adik-adikmu, dalam menentukan sukses atau tidaknya mereka. meski banyak faktor pendukung kesuksesan lainnya. Kamu adalah penyemangat hidup mereka.
Persaudaraan itu layaknya seperti Tom and Jerry, sering berantem, beda pendapat, saling menyalahkan, namun jika dipisahkan maka akan saling merindukan, karena kalian saling melengkapi satu sama lain.

Ibu, Sekolah Memang Membuatku Pintar Tapi Belum Bisa Membuatku Menjadi Benar

Selamat hari ibu, yang setiap harinya adalah hari milikmu Ibu

Ibu maafkan anakmu ini atas perdebatan panjang sore kemaren
perdebatan yang mestinya tidak boleh terjadi 
perdebatan yang membuatku merasa lebih segalanya dari ibu, 
Perdebatan yang membuat ibu lebih emosi dari hari sebelum-sebelumnya
perdebatan yang pada akhirnya membuatku sadar dan menangis tergugu, 
lancang sekali mulut ini berucap 
seakan aku lebih berpendidikan dibanding ibu, 
seakan aku lebih pintar, lebih tahu segalanya,
padahal engkau hanya berucap satu tapi aku bantah seribu 

Engkau beri aku nasehat dan petatah-petitih
tapi aku anggap  hanya mitos belaka
Ibu, asam garam belumlah menyentuh belanga hidupku
tapi angkuhku kian begitu tingginya
mengalahkan tingginya suara ibu 
Aku menyepelekan apa yang selama ini kau yakini
apa yang selama ini membuatmu tegar menjalani hidup
dalam  membesarkan kami

Ibu,
aku sadar 
sekolah memang membuatku pintar 
tapi belum bisa membuatku menjadi benar 
ibu aku telah belajar aljabar 
tapi aku kalah dalam bersabar 
aku telah belajar amar ma'ruf nahi mungkar 
tapi sifatku dan ucapanku masihlah kasar 
aku juga belajar apa itu nilai dan norma 
tapi terkadang tingkahku kerap tak beretika 
aku juga belajar mengaji 
tapi amarah tak bisa ku kunci 
aku belajar alif ba ta tsa
tapi mengucap sayang padamu saja masihlah terbata-bata

"Jika doa dan restu ibu adalah sebuah jalan, maka kerikil-kerikil kecil yang menghalangimu adalah sebuah bentuk keluh kesah dan kekecewaan seseorang ibu pada anaknya, Tesekkur ederim Mama, i have got a lot lesson today"

Happy mother's day AMAK, you're different, but you're the only one

Pendakian Gunung Telomoyo: Hujan Badai Sampai Sunrise

Pendakian Gunung Telomoyo, 1894 mdpl Rabu, 13 April 2016 sampai Kamis, 14 April 2016 Sunrisenya Gunung Telomoyo Suwung (bosan...